Minggu pagi, 25 April 2010, sejak pagi Vihara telah ramai dikunjungi anak-anak. Mereka berkumpul untuk belajar bersama dan bermain, kegiatan mereka beragam dari latihan tata cara ibadah, menyanyi bersama atau sekedar bercengkerama dengan sesama teman. Hari minggu menjadi saat yang hidup bagi vihara tersebut. Anak-anak menghabiskan waktu mereka disana, dengan bercanda dan bermain bersama, keceriaan mereka tak terganggu meskipun penggususran tengah menghantui kehidupan mereka.
Bertemu dengan ibu Ani, perempuan tua berumur 65 tahun ini hanya termangu ditepi jalan bersama cucunya. Teror penggusuran itu telah mengubah kehidupannya menjadi was-was tiap saat. “ Saya tinggal disini sudah puluhan tahun, dan baru kali ini saja akan digusur. Mau kemana kalau rumah digusur..paling-paling pindah ke depan…” Telunjuknya mengarah pada kuburan cina di seberang jalan. Kuburan Cina itu berdiri amat megah diantara deretan rumah berdinding bambu dan beratap daun kelapa. Rata-rata rumah warga di Tangga asem masih seperti itu, berderet amat rapat sehingga tak jelas batas antar keluarga.
Siang itu beberapa warga berkumpul dan membahas persoalan penggusuran yang mereka alami. rata-rata kaum ibu berkumpul bersama anak-anaknya. Dari pembicaraan mereka, tersirat bahwa kekecewaan mereka terhadap walikota Tangerang mengemuka. Bahkan janji kampanye walikota beberapa waktu lalu menjadi angin surga saja bagi mereka. “Saya disuruh milih Wahidin saja waktu pilihan, katanya orangnya baik, suka menolong dan tak akan menggusur warga. Tapi apa buktinya….sekarang kita suruh pindah tanpa diberi tahu kemana…”.
Sore mulai merambat ketika saya bertemu dengan Ivana, arsitek lulusan Universitas Indonesia itu datang atas undangan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH), membawa peta wilayah sepanjang bantaran sunga Cisadane. “Peta ini akan membantu kita untuk melihat wilayah kita tinggal, termasuk peninggalan bersejarah, aktivitas warga, kebudayaan dan tradisi yang ada. Peta ini akan membantu warga memetakan sendiri wilayahnya sebelum digusur”. Ujarnya. Hal ini menerik sekali menurut saya, bagaimana warga diajak untuk mengenali potensi wilayah mereka, dan memetakan kedaan daerahnya sendiri. Bahkan gambaran bagaimana mengatur wilayah mereka apabila tidak terjadi penggusuran kelak. Malam ini rapat digelar bersama warga untuk mempersiapkan penghadangan satpol PP pada penggusuran esok.
Senin, 26 April 2010 sejak pagi warga sudah berkumpul di Vihara Maha Bodhi, mereka sudah mempersiapkan diri untuk menunggu perintah dari koordinator warga seandainya penggusuran terjadi hari ini. Pagi ini saya bersama beberapa teman menelusuri sepanjang bantaran suanga Cisadane, salah satu tempat yang ingin saya kunjungi adalah rumah paling tua disana. Menurut warga tempat itu adalah bangunan paling tua dikampung itu.
Setelah berkeliling kampung saya akhirnya menemukan sebuah bangunan kuno, kusam dan tak terawat, Inilah rumah tua yang saya cari. rumah itu berdiri tak lebih dari 100 meter dari sungai Cisadane. Di sana saya bertemu seorang perempuan tua berumur 85 tahun. Ong Yong Yong, demikian ia memperkenalkan dirinya. “Saya tinggal disini sejak umur 12 tahun, saat semua orang berlari menyelamatkan diri dari kejaran Belanda”. Ucapnya sambil menatap lurus kearah saya. Bisa dikatakan rumah ini seperti bangunan kotak, dindingnya kusam dan ditumbuhi lumut, dua pintu yang menjadi fentilasi bangunan kuno itu saling membelakangi. Pilar-pilar besar berdiri kokoh menopang bangunan ini. Tak ada perabotan didalam rumah itu, hanya sebuah dipan, meja untuk menaruh hio atau sesembahan. Dapur yang tak bersekat dan sebuah kamar mandi kuno. “ Rumah ini dulu milik tuan tanah, orang kaya pemilik perkebunan disekitar sini. Saya bersama orang banyak dulu mengungsi disini”. Rumah ini sejak 73 tahun lalu dihuni oleh Ong Yong Yong bersama puluhan pengungsi, menurutnya pada saat ini bangunan rumah tersebut sudah kusam dan tak terawat. Lambat laun sesama pengungsi yang tinggal disana kemudian berpencar, membangun rumah sendiri-sendiri, lalu tinggalah ia bersama keluarganya.
Rumah ini mungkin sudah ratusan tahun usianya, karena seingat Ong Yong Yong kondisi rumah itu sudah begini sejak kedatangannya. Dan genting rumahnya pun belum pernah diganti selama ini. “Kalau bocor iya sering, tapi kalau diganti belum pernah” ujarnya. Perempuan tua itu hanya berharap penggusuran tak terjadi, karena baginya ditempat inilah orangtuanya dulu meninggal dan kini ia tetap tinggal ditempat ini.
Bantaran sungai/kali Cisadane yang airnya berwarna hitam tak mengahalangi anak-anak mandi dan bermain sore itu. Anak-anak menikmati kehidupan dengan caranya sendiri yaitu berenang mencari ikan dan bermain air. Keceriaan terlintas dari tawa mereka seolah mereka tidak menangkap getar kkawatir dari benak orang tuanya bila esok mereka tak lagi bisa bermain disana.
MEREKA TETAP MELAWAN
Siang begitu panas hari ini, khususnya untuk di Tangga Asem beberapa kali mobil patroli polisi lewat, bahkan beberapa saat kemudian puluhan motor yang di naiki polisi melaju masuk kampung membelah kerumunan warga. Ketegangan jelas tergambar, bahwa hari ini pasti ada eksekusi. Namun hingga siang hari, saat warga khususnya perempuan menggelar aksi di Tangga Asem, satpol PP tak menampakkan diri. Namun semangat kaum perempuan itu tidak luntur meskipun tak ada satpol PP, mereka tetap berkumpul dan menyanyikan lagu-lagu perlawanan.
Mereka bukan hanya masyarakat keturunan Cina, tetapi mereka adalah kehidupan bernama manusia, mereka adalah kebudayaan yang hidup. Tradisi yang memperkaya kebangsaan kita yang mewarnai bangsa Indonesia. Bahkan mereka adalah awal mula keberadaan kota Tangerang, sejarahnya sendiri berawal dari pinggiran Cina Benteng.
Perlawanan yang dilakukan warga Cina Benteng membuktikan bahwa mereka saat ini sadar tentang haknya sebagai warga negara untuk mempertahankan haknya. Mereka bersuara, menuntut keadilan atas penggusuran yang mereka alami. Walikota yang bertindak semena-mena untuk mengusir warga bukanlah alasan yang tepat untuk mengatasi persoalan warga. Termasuk kemiskinan yang mereka alami, bisa dibayangkan jika mereka terusir dari kampungnya 300 kepala keluarga itu akan tinggal dimana? bagaimana nasib anak-anaknya, pendidikan mereka, masa depan mereka? Alasan yang tidak masuk akal dari walikota Tangerang untuk menggusur mereka adalah pelanggaran dari UUD 45 pasal 28a Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Selain itu pelanggaran Hak asasi manusia, bukankah amandemen UUD 45 telah menjaminnya?
Penggusuran itu tinggal menungu waktu, karena pemda Tangerang masih bersikukuh untuk membersihkan wilayah Cina Benteng dari pemukiman. pemda tak hanya menggeser warga, tetapi telah menghancurkan kebudayaan, etnis dan tradisi turun temurun yang tetap dilestarikan warga Cina Benteng hingga kini. (Bersambung).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar